JAKARTA, SABTU- Identitas pria bertato macan yang menjadi korban mutilasi hingga Jumat (3/10) belum diketahui. Polisi mendapat informasi bahwa pria tersebut diduga seorang karyawan di kawasan pergudangan Tangerang. Namun pemberi informasi tersebut sedang mudik ke Semarang, sehingga belum didapat informasi yang lebih lengkap.
Seperti diberitakan, mayat terpotong 13 tanpa kepala dan telapak tangan ditemukan di bus Mayasari Bakti P 64 jurusan Kalideres-Pulogadung yang sedang parkir di pompa bensin di kawasan Tugas, Cakung, Jakarta Timur, Senin (29/9) sore. Petunjuk penting pada mayat korban mutilasi ini adalah tato gambar kepala macan di lengan.
Salah satu dari saksi yang telah dimintai keterangan oleh polisi mengatakan, bungkusan plastik yang belakangan diketahui berisi potongan tubuh manusia tersebut dibawa oleh seorang wanita muda. Ketika naik bus, wanita tersebut diantar seorang pria dan masuk lewat pintu belakang.
Wanita itu, kata seorang penyidik mengutip keterangan saksi, kemudian ditinggalkan oleh pria pengantarnya. Namun, saat kondektur menarik uang dari penumpang, ongkos wanita itu ditanggung oleh lelaki yang duduk di sebelahnya.
Leo Aritonang?
Begitu kabar penemuan korban mutilasi 13 tersebar, polisi menerima telepon dari seorang pria yang mengaku sebagai karyawan di kawasan pergudangan di Tangerang. Pria tersebut menduga korban mutilasi 13 adalah rekannya, Leo Aritonang, yang juga karyawan di kawasan pergudangan tersebut.
Kepala Kepolisian Sektor Metro Cakung Komisaris Yayat Popon menyatakan, penelepon tersebut mengatakan bahwa rekannya, yakni Leo Aritonang, sudah beberapa hari menghilang. Namun polisi belum bisa meminta keterangan lebih banyak dari pria tersebut, karena hingga kemarin dia masih mudik ke Semarang.
”Kami belum bisa menggali keterangan lebih banyak warga tersebut. Kami terpaksa menunggu dia balik ke Jakarta,” ucap Yayat Popon didampingi Kepala Unit Reserse Kriminal Iptu Bambang Cipto.
Menurut Yayat, polisi belum tahu apakah orang yang memberi informasi itu punya kedekatan khusus dengan Leo Aritonang. ”Bisa jadi orang tersebut memberi kabar karena dia punya ketertarikan atau kepedulian dalam kasus mutilasi ini,” ucapnya.
Hingga Jumat malam, belum ada orang yang mengaku sebagai keluarga korban mutilasi 13 yang datang ke Mapolsektro Cakung. Yayat juga mengatakan bahwa pihaknya sempat menerima informasi lewat telepon yang mengatakan potongan kepala seorang pemuda ditemukan di daerah Ciputat. Namun, setelah dicek, ternyata tidak ditemukan kepala manusia seperti yang diinformasikan melalui telepon.
Sebar foto
Di sisi lain, untuk menjaring informasi lebih banyak, polisi menyebar gambar tato macan di lengan korban. Gambar tersebut disebar di tempat-tempat keramaian seperti terminal bus, stasiun KA, pasar, dan kawasan pabrik. ”Sebanyak-banyaknya akan kami pasang supaya masyarakat yang mengenali gambar tato macan itu bisa memberi kabar ke polisi,” tutur Yayat.
Menurut Yayat, pemeriksaan oleh dokter terhadap korban mutilasi 13 belum dapat menentukan penyebab pasti kematian korban. ”Untuk mengetahui penyebab kematiannya kan mesti memeriksa organ tubuh, salah satunya jantung. Tapi pada korban mutilasi ini kan tidak ada (bagian) itu. Jari kaki dan tangan juga tidak ada, pelaku benar-benar lihai, sepertinya dia belajar dari kasus-kasus mutilasi yang pernah ada,” paparnya.
Yayat juga mengimbau warga masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya atau memiliki informasi akurat tentang kasus mutilasi 13 ini memberikan informasi ke Polsektro Cakung. (ded)